Kompor bahan bakar Grajen
Kompor ini sebenernya sudah tidak asing di telingan kita, tetapi pengenalan kepada masyarakatnya aja yang kurang, saoalnya waktu aku sekolah smp itu dah di ajarin prakarya seperti. Yo wis ga’ po po lebih di refres kembali akan lebih baik karena kondisi minyak yang semakin langka dan mahal.
Nah kita nemu nih postingan dari radar Madiun mengenai ini…
Rabu, 07 Mar 2007
Nur Yasin, Warga Kota Madiun Pembuat Kompor Berbahan Bakar Grajen Kayu
Cuma Butuh Kaleng Bekas Roti dan Uang Rp 2.400
Inspirasi, seringkali muncul di saat-saat sulit. Beberapa waktu lalu, misalnya, minyak tanah susah didapat. Jikapun ada, harganya lebih mahal dari biasanya. Kondisi ini, memaksa Nur Yasin, warga Manisrejo, Taman, Kota Madiun, teringat ilmu lama. Yakni, memasak dengan kompor yang berbahan bakar grajen kayu.
Bambang H Irwanto, Madiun
—
MODALNYA murah. Hanya butuh kaleng bekas roti, bambu panjangnya sekitar 40 centimeter, kayu, irisan seng, dan grajen (limbah penggergajian kayu, red). Semuanya, bisa didapat tanpa harus mengeluarkan dana besar. Mungkin, hanya grajen-nya saja yang harus dibeli. Harganya, sekitar Rp 2.500 per karung.
"Itu, jika nggak bawa tempat sendiri. Kalau mbawa karung sendiri, paling Rp 1.500 per karungnya," ujar Nur Yasin, warga Jalan Pondok Manis II Nomor 18 Manisrejo, kemarin.
Di tangan pensiunan anggota TNI AD ini, barang-barang itu bisa menjadi benda berharga. Setidaknya, jika kondisi tidak memungkinkan kita, mengantre hingga membeli minyak tanah. "Sebenarnya, informasi ini sudah lama. Tetapi, beberapa bulan lalu, saat minyak tanah sulit dan mahal, saya teringat informasi dari teman saya dari Jawa Barat dulu," paparnya kepada Radar Madiun.
Kaleng roti berbentuk kotak ukuran sedang, lanjutnya, cukup untuk memasak air satu panci besar, memasak nasi lengkap dengan sayurnya. Untuk membuat kaleng siap pakai, di salah satu sisi di bagian bawah kaleng, dilubangi dengan ukuran sekitar 3 x 4 cm. "Selanjutnya, di lubang itu diberi kayu bentuk kotak. Lalu, dari atas diberi bambu. Ini, hanya untuk mencetak saluran api dari bawah ke atas. Dalamnya kaleng, diisi grajen kering, dipadatkan. Kayu dan bambu, ditarik atau dilepas dari dalam kaleng," paparnya menjlentrehkan cara membuat kompor irit bahan bakar ini.
Untuk mempermudah nyala grajen, ditetesi minyak tanah sedikit. Dan, bum, dengan sulutan korek api, kompor pun menyala dan siap digunakan untuk memasak. Agar kokoh, disamping kiri kanan kaleng, bisa ditambahi batu bata.
Nur Yasin, bapak berputra empat ini meyakini, kompor yang sudah dicobanya sejak empat bulan lalu, jauh lebih hemat jika dibandingkan menggunakan minyak tanah. "Sebulan, kalau menggunakan minyak tanah, sekitar Rp 225 ribu. Lha ini, dengan membeli grajen Rp 2.500 per karung, bisa untuk beberapa kali masak, tergantung banyak sedikitnya masakan," paparnya.
Hanya, diapun menyebut beberapa kelemahan kompor itu. Di antaranya, perlu ketelatenan memasukkan dan memadatkan grajen. Juga, alat-alat dapur di sekitar kompor, berpotensi kotor karena debu grajen. "Juga, di panci atau wajan agak hitam," kata Nur Yasin.
Tetapi, dia buru-buru menyebut resep anti-panci hitam. Yakni, di atas kompor diberi lapisan seng dengan dilubangi. Maka, asap hitam akan terpecah tidak terfokus ke sisi bawah panci atau wajan. "Butuh telaten mungkin ya," katanya.
Tetapi, lanjutnya, ketelatenan membuat dan meracik kompor itu dengan grajen, berbuah pengiritan pengeluaran kocek cukup besar. "Kalau untuk warga yang mungkin sulit menjangkau beli minyak tanah, saya yakin ini cukup bermanfaat. Atau, di saat minyak tanah sulit dan mahal, berguna lah," tandas pria berusia 65 tahun ini.
Untuk memasak nasi dan sayur, diperkirakan cukup dengan kompor kaleng ukuran grajen hingga satu kilogram. Tetapi, dengan beban memasak lebih besar seperti memasak air, bisa dengan kompor yang isinya grajen sampai dua kilogram. "Lebih cepet panas juga kok," kata pria penghobi mancing.
Nur Yasin pun, cukup terbuka, jika ada warga yang ingin mengetahui cara pembuatan kompor berbahan bakar grajen ini.
Baca juga ini. Suara Merdeka 06 sep 2005
/10 rang Google

Ayo siapa yang mau mencobanya, lumayan iseng2 tambah penggalaman
Comment by Administrator — 7 March 2007 @ 8:54 pm
bisa kirim langkah kerjanya ke email q
Comment by wahyu — 3 November 2007 @ 1:33 pm
kelihatannya perlu diberdayakan agar warga yang kurang mampu bisa memakainya,setelah minyak tanah yang sempat sulit dicari dan harganya yang lumayan mahal tapi perlu dipatenkan agar tak diakui Orang lain….
Comment by tofa — 1 February 2008 @ 4:23 pm
boleh ni nyoba, tolong dong kirimin bagan dan gambarnya
Comment by suri — 13 February 2008 @ 5:55 pm
Saya juga pernah pakai sewaktu saya jadi kuli di proyek,memang cepat sekali masaknya,karna apinya kencang akibat di dorong oleh angin yang masuk dari lobang samping.
Comment by Agustinus — 31 August 2008 @ 11:27 am
Punten ah…, numpang usul…. Bagi yang memakai kompor dengan bahan bakar minyak tanah bila kesulitan mendapatkan minyak tanahnya atau harganya lebih mahal dari solar, ganti saja dengan solar yang tersedia di setiap POM bensin, hasilnya bagus kok, tidak kalah dengan minyak tanah.
Comment by Agus — 5 September 2008 @ 2:52 pm